ANAK TERAWANG-RAWANG DI BAWAH..WANITA SANGGUP MENGADAI NYAWA DEMI SEKEPING MADU YG DI KUTIP DI CELAH-CELAH BATU KERIKIL

loading...

ANAK TERAWANG-RAWANG DI BAWAH..WANITA SANGGUP MENGADAI NYAWA DEMI SEKEPING MADU YG DI KUTIP DI CELAH-CELAH BATU KERIKIL



Setiap dua tahun sekali, suku Gurung di Nepal mempertaruhkan hidupnya memanjat tebing Himalaya untuk mengumpulkan madu dari sarang-sarang lebah yang bergelantungan di tebing-tebing Himalaya yang curam dan terjal. Dan orang Gurung sudah melakukan tradisi ini sejak ratusan tahun yang lalu, turun temurun dari nenek moyang mereka.

Untuk mengumpulkan madu, para pemburu madu Gurung ini hanya menggunakan tangga dari tali yang dirakit oleh tangan-tangan terampil mereka. Selain itu mereka menggunakan tongkat kayu panjang yang disebut tangos. Sebagaimana layaknya proses panen madu, pemburu madu Gurung juga menggunakan asap untuk mengusir lebah-lebah ganas terbesar di dunia di lereng Himalaya.

Pada musim gugur, hasil perburuan madu dapat menghasilkan 200 liter madu yang kemudian dibagi-bagikan secara merata untuk penduduk desa mereka. Sedangkan pada musim semi dapat menghasilkan 80 liter madu. Madu merah hasil panen musim semi ini kemudian diekspor ke Jepang Korea, dan China untuk kebutuhan pengobatan di sana.

Tidak hanya Gurung di Himalaya, tradisi memburu madu ini adalah tradisi kuno yang sudah berlangsung sejak 8.000 sebelum masehi. Umumnya tradisi ini dipraktekkan oleh suku dan penduduk Afrika, Asia, Australia, dan Amerika Selatan. Bahkan di Indonesia, kegiatan perburuan madu ini masih berlangsung hingga saat ini di hutan-hutan Sumbawa dan Riau. Dari sini kita jadi tahu kenapa madu liar itu harganya berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan madu hasil dari lebah yang diternakkan.



loading...

0 Response to "ANAK TERAWANG-RAWANG DI BAWAH..WANITA SANGGUP MENGADAI NYAWA DEMI SEKEPING MADU YG DI KUTIP DI CELAH-CELAH BATU KERIKIL"

Post a Comment

facebook KLIK PANGKAH 2 KALI UNTUK TUTUP Button Close